HOME / Tulisan

Suksesi Penguasa Gelanggang Mahasiswa: Serem dan Lucu

5 Jan 2025

Suksesi Penguasa Gelanggang Mahasiswa: Serem dan Lucu

Seperti pergantian pemimpin organisasi mahasiswa lain, pergantian Ketua Sekber Olahraga UGM juga penuh intrik. Serem dan lucu.

Setelah makan mie rebus di warung depan kos, aku berniat tidur. Capek, meski seharian cuma luntang lantung di Bulaksumur B-21, Fakultas dan Gelanggang. Lewat jam sembilan malam Gelanggang mulai sepi, aku pun pulang ke kos: Sagan, limapuluh meter dari mulut gang di Jalan Cik Ditiro, persis samping tembok RS Panti Rapih.

Baru merebahkan tubuh di kasur kapuk yang mengeras, terdengar suara memanggil. Aku mengenali suara itu. Capung. Duh, ngalamat gak jadi tidur ini, batinku. Inilah risiko indekos di dekat Gelanggang, sering jadi ampiran.

Benar saja, sambil melongokkan kepala dari balik pintu kamar, Capung berujar, “Ayo ke Gelanggang! Sebentar.” Tak ada kata sebentar di Gelanggang, apalagi malam-malam, apalagi yang ngajak Capung.

“Malas ah, ngantuk,” jawabku terus terang. Rupanya Capung berkeras, “Ayolah, penting ini.” Ha ha, koyo ngurus negoro wae penting, kataku tak terucap. Sejurus kemudian Capung masuk kamar dan menendang kakiku. “Nek ra tangi, takseret kowe,” ancamnya. Dengan malas aku pun bangun.

Kami keluar kos, tanpa banyak bicara. Berjalan meninggalkan Gang Sagan, berbelok ke kanan menyusuri Jalan Cik Ditiro. Baru setelah melewati Bunderan, aku bertanya, “Ono opo sih, bengi-bengi mekso-mekso ning Gelanggang.

Capung cuek. Sambil terus melangkah, pandangannya lurus ke depan. Sinar kuning lampu Bunderan membuat wajah kurusnya jadi menakutkan. Setelah belok kiri dan sampai di halaman Gelanggang, Capung berhenti.

Kowe dadi saksi yo, nek Hasto mati di sini nanti,” tuturnya pelan. Aku tertegun sejenak. Wah, akan ada adegan pembunuhan. Meski mimiknya tanpa ekspresi, aku tak berpikiran macam-macam. Mbuhlah.

Diluk engkas Anton teko. Tunggu saja di sini,” ujar Capung sambil ngajak duduk di undakan teras Gelanggang. “Kowe krungu toh, masalah Sekber,” katanya mengawali obrolan. “Masalah opo?” jawabku tidak mengerti.

Maka berceritalah Capung tentang kondisi Sekber Olahraga. Bahwa Sekber begina beginu, bahwa Sekber begita begitu, bahwa Sekber takmuta takmutu. Singkat cerita, biang masalahnya adalah Hasto. “Deweke ora gelem mudun, ora gelem diganti,” tegasnya.

Terus terang aku gak paham dengan cerita Capung. Aku memang dengar Sekber Olahraga ada masalah, tapi mana ada organisasi mahasiswa tanpa masalah. Di Balairung, UKM tempatku berkegiatan, nek ora dowo ususe iso judeg ngadepi orang macam Thoriq, Afnan, Oblo, Murdoc, dll.

Lalu, dari arah depan, sosok tinggi tegak mendekat. Melangkah pelan. Tangan kanan memegang rokok menyala, tangan kiri menyeret benda pipih panjang. Kriitt… kriiitt… kriiiittt… bunyi ujung besi menggores aspal. Asu kiy! Anton bawa klewang, pedang panjang berkilat-kilat.

Endi wonge, endi wonge,” tanya Anton. “Tunggu ae, jare arep mrene ngajak rembugan. Iki Didik dadi saksine,” jawab Capung. Dengan namaku disebut Capung di hadapan Anton, aku jadi mikir ini masalah serius.

Tenanan iki Pung?,” tanyaku serius. “Cen asu kowe... Lha ngopo takjak mrene nek gak serius,” jawabnya ketus.

Ora usah kakean cangkem, ora gelem mudun, sabet wae. Sepiro kandele kulite,” kata Anton. Dia melempar pedangnya lalu duduk di sampingku.

Sambil mendengar grenengan Anton, aku kuatkan indra penciuman. Tidak keluar bau setan dari mulutnya, tapi bukan berarti tidak mabuk. Toh, aku bukan petugas Kapal Ferry Lembar-Padang Bai yang heran melihat Bambang Ponco mabuk padahal mulutnya tidak bau alkohol.

Sambil merokok, kami bertiga berbincang banyak hal: Sekber Gelanggang, Sekber Kesenian, Sekber Olahraga, hingga Gama Fair. Menyebut banyak nama: Aruji, Bung Sus, Cak Man hingga akhirnya ngrasani Hasto.

Risih dikrubutin nyamuk, kami beralih ke Ruang Sidang. Kami teruskan grenengan sambil tiduran di matlas coklat bau keringat.

Hingga lewat tengah malam orang yang kami tunggu tidak datang. Kami ngantuk dan tertidur. Mungkin Hasto datang pas kami ngorok bersama, mungkin juga dia ngorok di kosnya. Yang bersangkutan masih bregas waras hingga kini.

Pondok Bambu, 12 Desember 2019

Didik Supriyanto, Majalah Balairung 1987-1991

Tulisan Terkait

didiksupriyanto

didiksupriyanto