HOME / Tulisan

Dua Kawan Hebat, yang Ketiga Hikmat

24 Feb 2025

Dua Kawan Hebat, yang Ketiga Hikmat

Yayan Sopyan, Made Tony Supriatma, dan Hikmat Budiman adalah aktivis yang menonjol intelektualitasnya. Mereka banyak membaca tetapi tak kelihatan sebagai kutu buku karena penampilannya yang santai dan cenderung cuek bebek.

Dalam soal “mencerdaskan kehidupan bangsa”, saya termasuk orang yang paling beruntung. Saya sekolah SD dan SMP di kampung di tengah hutan jati Tuban, Jawa Timur. Saya sudah diterima di SMAN 1 Tuban ketika Pak Lik yang kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia mengajak berlibur ke Yogyakarta. Beliau minta saya membawa ijazah SD dan SMP untuk coba-coba tes masuk SMAN 3 Yogyakarta, sekolah favorit di kota pelajar itu. Sungguh tidak menyangka kalau kemudian diterima, karena materi tes sangat sulit.

Kemampuan saya di bawah rata-rata terbukti enam bulan kemudian. Nilai saya tidak cukup membawa ke kelas IPA sehingga dimasukkan di kelas IPS. Kami siswa buangan. Bayangkan, dari tujuh kelas, cuma ada dua kelas IPS. Hanya karena guru-guru terus menyemangati maka kami tidak minder. Setelah lulus kelihatanlah siapa kami. Lebih dari 50 persen anak-anak IPS diterima di perguruan tinggi negeri favorit, sedangkan 15 persen anak-anak IPA gagal menembusnya. Yang mengejutkan kawan sekelas, adalah saya diterima tanpa tes di Jurusan Ilmu Pemerintahan Fisipol UGM, melalui jalur PMDK. Sungguh beruntung, sebab kalau ikut tes masuk, belum tentu saya diterima.

Keberuntungan saya berlanjut ketika kuliah Jurusan Ilmu Pemerintahan, yang kemudian berganti nama menjadi Departemen Ilmu Politik dan Pemerintahan. Sebagian besar dosennya asik saat mengajar, meski ada beberapa yang menyebalkan. Ini yang bikin malas kuliah, juga pening baca sejumlah diktat. Akibatnya, nilai jeblok dan harus mengulang. Nah, di tengah gerutu harus mengulang beberapa mata kuliah, datanglah kebijakan baru: jumlah SKS program sarjana dikurangi. Saya pun tak harus mengulang karena jumlah SKS pas untuk ikut KKN dan skripsi. Alhamdulillah bisa lulus meski sempat dua tahun cuti. Saya dapat gelar sarjana ilmu politik (SIP) sedang sebagian besar kawan seangkatan yang lulus lebih dahulu menyandang gelar doktorandus (Drs).

Namun keberuntungan terbesar saya saat kuliah adalah memiliki tiga kawan yang pemahamannya akan ilmu sosial di atas rata-rata. Saya tidak pernah tanya berapa IPK-nya, tetapi saya tahu mereka pintar sekali: daya ingatnya kuat, kemampuan abstraksinya tinggi, logikanya luar biasa, dan bahasanya mudah dipahami. Selalu menyenangkan mengobrol dengan mereka. Pribadinya yang terbuka membuat mudah menyerap ilmu yang dikuasainya. Kadang-kadang, tanpa pernah baca buku yang mereka rujuk, saya berani menyampaikan apa yang dikatakannya kepada kawan yang lain. Ya, biar tampak sedikit pintar ha ha.

Pertama adalah Made Tony Supriatma. Dia kawan satu angkatan 1986 di Jurusan Ilmu Pemerintahan, tapi dia sudah dua tahun kuliah di Fakultas Hukum Universitas Atmajaya Yogyakarta. Dia tinggal di Asrama Realino. Agak aneh ada orang Bali ngekos di Asrama Realino, namun bisa dimengerti ketika mengetahui bahwa dia berasal dari keluarga Katolik. Dia minoritas dari minoritas: Katolik minoritas di Bali, Bali minoritas di Indonesia. Tahun kedua, Tony mendorong saya mencalonkan diri menjadi ketua Korp Mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan (Komap). Saya mau, asal dia bersedia jadi juru kampanye. Maka kami berdua tampil dalam forum debat menghadapi calon utama. Bolehlah menang dalam debat, tapi kalah dalam pemilihan. Ya, setidaknya jadi minoritas yang eksis.

Tony adalah tipe mahasiswa disiplin. Dia tidak pernah telat, juga tidak pernah absen. Dia hanya tertawa terkekeh mendengar gerutu saya atas dosen-dosen yang menyebalkan. Dia lebih suka bercerita tentang pengasuh Realino yang tak kalah menyebalkan. Nilainya selalu bagus sehingga lulus cepat. Dia mendapat Hardjono Award, penghargaan bagi mahasiswa Fisipol berdasarkan nilai akademik dan karya ilmiah. Dia ke kampus hanya untuk urusan akademik. Namun belakangan saya tahu, dia banyak kegiatan di luar kampus juga.

Perbincangan saya sama Tony lebih banyak terjadi di teras sebelum masuk kelas. Kami bisa berbincang panjang setelah keluar dari kelas sambil menunggu kelas berikutnya. Bahwa dia pintar dan menguasai banyak bacaan, sudah terlihat dalam diskusi-diskusi kelas. Namun karena tidak suka menonjolkan diri, maka apa yang disampaikan di kelas tidak seberapa jika dibandingkan dengan apa yang disampaikan di teras. Dengan fasih dia menjelaskan perbedaan pandangan antara Ben Anderson dengan Harry Benda, George Kahin, Herbert Feith, dan Indonesianis lain dalam melihat pergerakan nasional dan kemerdekaan Indonesia. Dengan runtut dia menjelaskan pemikiran-pemikiran kiri mutakhir, yang terus terang saya tak tahu sebelumnya. Maklum, modal saya hanya baca majalah Prisma. Yang membuat saya takjub saat dia menjelaskan isi buku baru Indonesia: The Rise of Capital karya Richard Robison. Buku ini terbit 1986, Tony sudah khatam, sementara para dosen belum pernah melihat sampulnya.

Saat saya masih berjibaku dengan KKN, Tony sudah wisuda. Saya dengar dia melamar jadi dosen, tetapi karena tidak ada formasi, maka dia hilang dari pandangan saya. Dapat kabar, dia melanjutkan studi di Cornell University, berguru pada Ben Anderson. Tahun-tahun menjelang keruntuhan Orde Baru, saya sering membaca tulisan-tulisan di Indonesia-L, milis grup terkenal saat itu, yang oleh kawan lain ada yang disebut sebagai tulisan Tony. Benar atau tidak, saya tidak pernah klarifikasi. Setelah media sosial populer, khususnya Facebook, saya senang bisa menikmati tulisan-tulisannya. Jika berbincang di teras sudah tidak mungkin lagi, membaca tulisannya cukuplah sebagai penggantinya.

Kedua adalah Yayan Sopyan. Dari namanya, bisa ditebak: Sunda. Dia lahir di kota kecil tapi terkenal: Rengasdengklok. Yayan adalah mahasiswa Fakultas Filsafat UGM angkatan 1984. Saya ketemu pada 1987 di Lembaga Pers Mahasiswa UGM yang menerbitkan majalah Balairung. Kami sama-sama ikut Pelatihan Pers Mahasiswa se-Indonesia yang diselenggarakan Balairung, lalu sama-sama mendaftarkan ke Balairung. Yayan mendaftar di bagian redaksi, saya di bagian usaha. Saya sadar, kalah pintar dan kalah pengalaman dengan pendaftar lain, maka agar bisa masuk Balairung saya ambil jalur nonredaksi, yang saya yakin tak banyak pendaftarnya. Ternyata benar, saya diterima.

Yayan adalah penyair. Puisinya Biarkan Kami Bermain jadi judul buku kumpulan puisi mahasiswa yang diterbitkan Balairung pada 1987. Bersama Bu karya Afnan Malay, puisi itu sering dibacakan di acara mimbar bebas di kampus. Mimbar bebas diawali anak-anak Filsafat lalu muncul di fakultas lain. Yayan usul ke pimpinan Balairung agar menggelar mimbar bebas di Gelanggang Mahasiswa. Saya pun diminta membantu untuk menyebar publikasi. Karena lintas fakultas dan dimeriahkan oleh UKM Kesenian, mimbar bebas di Gelanggang lebih ramai. Mimbar bebas boleh dibilang arena latihan sebelum aksi jalanan. Sebab di sini, mahasiswa tidak sekadar berpuisi dan bernyanyi, tetapi juga berorasi memprovokasi diri sendiri dan kawan-kawannya untuk turun jalan. Bu, belikan aku keberanian di pasar loak atau supermarket. Besok aku mau demonstrasi!

Perkawanan saya dengan Yayan tidak berhenti di Balairung. Kami sering saling kunjung ke kos dan sesekali menginap. Dia pandai bermain gitar dan bernyanyi. Dia suka memainkan lagu-lagu Beatles, dan penggemar berat Leo Kristi. Saat di kosnya, saya lebih suka mendengar dia main gitar daripada mendengar suara Leo Kristi dari tape bosok dengan kaset bodol. Kami sering berdiskusi, atau tepatnya, saya bertanya dia menjawab. Penguasaan saya atas ilmu politik yang sedikit, kerap dikritisi dan dengan pendekatan kebudayaan. “Saya gak paham baca strategi kebudayaan Van Peursen,” kata saya. “Bukan gak paham, tapi ilmu politikmu memang antikebudayaan,” sergahnya.

Yayan tidak lama di Balairung. Sudah saatnya KKN dan menulis skripsi, katanya. Dia multitalenta. Sekolah filsafat, menekuni isu kebudayaan, dan menangani masalah lingkungan bersama Yayasan Dian Desa, lalu belajar program komputer secara otodidak. Namun kegemarannya menulis, tidak bisa ditinggalkan. Dia menerima ajakan Eros Djarot bergabung di Tabloid DeTIK. Saya menyusul setahun kemudian. Sebagai redaktur budaya, banyak gagasan yang hendak dikembangkan. Namun tabloid itu keburu dibredel pada Juni 1994. Selanjutnya Yayan menyambut antusias datangnya teknologi internet. Setelah Soeharto jatuh, lahir www.detik.com. Yayanlah yang mendesain sistem dan program media online pertama tersebut. Saya dan tim redaksi yang menyiapkan kontennya.

Ketiga adalah Hikmat Budiman. Dia lahir di Sukabumi, Sunda tulen tapi fasih berbahasa Jawa. Hikmat mahasiswa Jurusan Sosiologi Fisipol angkatan 1989, tetapi sudah dua tahun kuliah di Jurusan Sastra Prancis Fakultas Sastra. Saya sudah jarang ke kampus saat dia memulai kuliah Sosiologi. Kami sama-sama kos di Sagan, samping kiri Rumah Sakit Panti Rapih. Kami tinggal di satu gang, kos saya yang lebih dekat dengan jalan utama, berjarak kira-kira 100 meter dari kosnya. Bagian depan dari rumah kos saya adalah warung bubur kacang ijo. Di kos saya ada empat kamar dan ruang tamu cukup luas, dengan empat penghuni: saya, Genot (Filsafat), Bogel (Filsafat), dan Fajar (Ekonomi). Semula, kami sering berbincang di warung, lalu bergeser ke ruang tamu kos.

Hikmat suka meledek kawan berdasar studinya. “Kata Rene Descartes, cogito ergo sum, aku berpikir maka aku ada. Itu anak-anak filsafat salah kutip, yang bener, cogito erectum,” katanya kepada Bogel. Kalau provokasi itu dilayani, debat kusir jadinya. Padahal, sangat sulit menang eyel-eyelan dengan Hikmat. Beberapa kawan yang bertamu dan melayani dia berdebat, pulang malu hati. Dia pintar membolak-balik logika hingga lawan tak berkutik. “Kenapa kata ‘ekonomi’ konotasinya jelek ya. Bus ekonomi, kereta ekonomi, harga ekonomis; murahan semua itu. Padahal sekolah ekonomi kan elit. Susah masuknya, mahal biayanya. Bagaimana ini Fajar?” Yang diledek menantang balik, “Mau eyel-eyelan atau berhenti latihan gitar.” Hikmat pilih yang kedua, sebab dia lagi berguru main gitar sama Fajar. “Kamu bukan termasuk murid dedel,” kata Fajar kepadanya.

Hampir tiap hari Hikmat mampir ke kos kami, baik karena pesan makanan di warung atau karena memang mencari kawan bicara. Kecuali sedang membaca atau menulis, Hikmat bukanlah tipe orang yang bisa berdiam diri. Pikiran liar bergerak ke mana-mana, dan itu perlu penyaluran. Karena di kosnya tidak ada yang mau melayaninya bicara, dia datang ke kos kami. Karena itu kami jadi sohiban. Pernah pada satu momen yang hampir bersamaan, saya, Genot, Fajar, dan Hikmat sama-sama putus cinta. Kami saling meledek dan memaki diri sendiri. Nah, saat itu ada kawan yang datang ke kos bersama pacarnya. Kami cengar-cengir saja. Dua pekan kemudian, kawan itu datang lagi dan mengaku, baru saja putus pacar. Kami kasihan. “Kesalahanmu satu: bawa pacar ke sini. Ini kos antiperempuan,” kata Hikmat yang membuat kami terbahak-bahak.

Soal pemahaman Hikmat tentang sosiologi dan budaya, tidak perlu diragukan lagi. Artikelnya di media, makalahnya di seminar, buku-buku bacaannya, juga buku-buku karyanya kemudian, cukup menjelaskan kapasitas intelektualnya. Karena itu ketika ngobrol di warung atau ruang tamu, kami juga sering membahas yang serius-serius itu. Tentu saja, kami hanya mengajukan satu dua pertanyaan, lalu dia berbicara panjang lebar tetapi tidak tersinggung kalau disela. Dengan Genot yang suka menyanggah, Hikmat kadang harus bersabar. “Cah filsafat edan. Pernyataanmu gak logis. Mending jadi preman saja,” katanya disambut tawa lawannya. Sedang bersama Fajar, mereka bisa bicara soal sejarah musik berjam-jam sambil latihan memetik gitar.

Hikmat adalah orang terbaik yang bisa menjelaskan posmodernisme. Dia bisa membaca Prancis, sehingga gagasan yang ditulis pemikir Prancis, seperti Lyotard, Derrida, Foucault bisa dicernanya dengan baik. Saat itu, ada orang muda Jakarta yang sering diwartakan sebagai pemikir posmo Indonesia. Hikmat beberapa kali menunjukkan kesalahpahaman pemikir muda itu. “Ya, namanya juga posmo. Bebas. Salah dan sesat, gak apa,” katanya. Buku Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan yang ditulis Ignas Kleden juga jadi sasaran kritiknya. Namun dia sangat menghormati Ignas. Katanya, Ignas Kleden yang sekolah di Jerman, adalah sedikit dari pemikir terbaik yang kita punya. Sementara hanya dengan berbekal baca Dilema Usaha Manusia Rasional: Teori Kritis Sekolah Frankfurt, saya bisa memantik obrolan dan membawa Hikmat cerita pemikiran-pemikiran Jerman sampai karya mutakhir Habermas.

Hikmat percaya betul, tulisan adalah karya intelektual. Baginya menulis artikel di koran belum cukup, apalagi cuma modal ceramah. “Buku dengan satu pokok bahasan utuh, bukan kumpulan makalah, itulah ukuran orang pintar,” katanya. Dengan buku macam itu akan kelihatan kepedulian, komitmen, dan pemikiran seseorang. Saking seringnya Hikmat bicara soal ini, saya pun terpengaruh. Kalau ada kawan bilang, itu orang pintar, intelek, maka dengan serta merta kami bertanya, mana bukunya. “Makanya Mas Didik, IPK rendah tak apa, asal skripsi jadi buku,” katanya menyemangati. Saya berusaha keras untuk itu. Syukur, target melampaui IPK rendah itu tercapai: skripsi jadi buku. Demikian juga dengan skripsi Hikmat. Berarti kami sudah masuk golongan intelektual ini? “Ya tidaklah. Enak saja. Kan kita bukan anggota ICMI,” jawabnya.

Tulisan Terkait

didiksupriyanto

didiksupriyanto