Setelah memimpin Perludem lebih dari 10 tahun, Titi Anggraini melepas jabatan direktur eksekutif pada Agustus 2020. Siapa perempuan yang sering tampil di televisi ini?
Titi Anggraini itu perempuan muda, cerdas, dan komunikatif. Demikian kesimpulan saya ketika pertama kali bertemu pada pertengahan 2003 di Kantor Panwas Pemilu 2004, Jl Rasuna Said Kuningan, Jakarta. Setelah tiga bulan bekerja di Panwas Pemilu 2004, saya tahu lulusan FHUI ini enerjik dan multifungsi. Energinya besar dan bisa melakukan apa saja yang baik. Di tengah pekerjaan yang berjibun sebagai koordinator tim penanganan pelanggaran, dia masih sempat kuliah S2 di FH UI, dan lulus dengan nilai cum laude.
Belakangan ketika media sosial menyelimuti hidup kita, Titi menjadi seorang multitasking. Akibat pengaruh perkembangan teknologi media, kemampuan menjalankan berbagai hal dalam waktu yang bersamaan, biasanya dimiliki oleh generasi millenial. Titi bukan termasuk generasi itu, tapi bisa melakukannya dengan baik. Sambil diskusi atau seminar, dia terbiasa posting konten di twitter, facebook, dan instagram. Juga masih terus mengirimkan pesan di whatsapp.
Sifat cerdas, komunikatif, enerjik, dan multifungsi itu membuat pergaulannya sangat luas. Di tidak hanya dikenal baik oleh para reporter, tetapi juga mendapat tempat di hati para editor, dan bahkan para pemimpin redaksi. Makanya tidak heran, kalau namanya sering muncul di koran dan media online, suaranya kerap terdengar di berbagai radio, dan wajahnya selalu menghiasi layar televisi.
Saya tahu, banyak orang yang iri dan dengki atas penampilan Titi di media konvensional itu: cetak, radio, televisi, dan online. Dia juga sering risau dengan suara-suara sumbang itu. “Saya kan gak pernah minta diwawancarai, Pak. Bahkan saya sering rekomendasi beberapa nama agar dijadikan narasumber, khususnya kawan-kawan pemantau. Tapi mereka maksa saya komentar.”
Keluhan macam itu sering saya dengar darinya. Saya pun merespon dengan kata-kata yang selalu berulang. “Tidak usah diambil hati, yakinkan dirimu bahwa kamu tampil di media itu demi orang banyak, bukan demi popularitas pribadi.” Selain itu, kesadaran gender yang terus meningkat di lingkungan media, juga harus kita imbangi dengan sungguh-sungguh untuk memberi kesempatan lebih banyak kepada perempuan. “Kamu adalah representasi kaummu.”
Jika Anda follower Titi Anggraini di media sosial (twitter, facebook, instagram, youtube), maka Anda akan mengetahui betapa aktifnya orang ini dalam bermedsosria. Postingan muncul tiap hari dan konsisten mengembangkan isu pemilu dan demokrasi, kadang juga soal korupsi dan hak asasi. Meski tampak tertatih-tatih, dia bisa menyesuaikan diri dengan bahasa gaul kaum millenial.
Suatu saat, di kantor Perludem, Titi dkk mendengarkan saya menerima telepon dengan Bahasa Jawa. Saya sempat memaki, “kopet!” Usai telepon dia bertanya, apa artinya kata itu. Saya jawab, itu bahasa orang Jogja. “Saya tahu itu makian orang Jawa, Pak. Saya beberapa kali baca di twitter.” Beberapa hari kemudian, dia mengirim hasil googling tentang arti kata itu. Katanya, dia penasaran karena baru saja ketemu makian itu lagi di twitter.
Yang tidak banyak diketahui orang, Titi bisa berkomunikasi lancar dengan para politisi DPR dan menteri, termasuk mereka yang masuk kategori, “Saya gak suka Pak, saya benci banget sama orang itu. Negative thinking. Masak dikritik dikit saja tersinggung, marah, merendahkan. Kan saya dapat cerita dari kawan-kawan wartawan, Pak.” Tetapi beberapa pekan kemudian, dengan bangga dia bercerita bahwa dirinya sudah whatsappan atau teleponan dengan orang itu.
Beberapa kawan aktivis sering memuji kalimat-kalimat lugas Titi dalam mengkritisi kebijakan atau putusan politik yang dinilainya salah atau tidak tepat, saat berhadapan dengan politisi DPR atau pejabat tinggi, baik dalam forum resmi, seperti Rapat Dengan Pendapat Komisi II DPR, diskusi-diskusi terbatas di kementerian, ataupun forum seminar dan diskusi terbatas. Titi juga sering mengeluarkan semua ilmunya dengan kalimat runtut dan logis sehingga membuat lawan bicaranya tidak berkutik saat tampil bareng di televisi.
Tetapi beberapa aktivis perempuan juga khawatir, kalau-kalau kritik keras di hadapan politisi dan pejabat itu berbalik jadi petaka. Tetapi saya yakinkan bahwa kekhawatiran itu tidak perlu. Sebab sebelum atau sesudah acara, biasanya Titi melakukan komunikasi intensif dengan politisi atau pejabat tinggi tadi, sehingga tercipta suasana saling memahami meski tetap tidak saling menyetujui. Politisi dan pejabat yang tadi masuk keranjang “saya gak suka, Pak,” berpindah ke keranjang, “orangnya baik kok, Pak.”
Itu terjadi karena Titi menelan habis pesan orang tuanya, bahwa setiap orang itu pada hakekatnya baik. Sebagai sarjana hukum dia meyakini tesisnya sendiri: sampai belum ada bukti bahwa orang itu jahat, maka dia menganggap setiap orang itu baik. Pandangan demikian tentu saja bisa menimbulkan masalah, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi kawan-kawannya di Perludem.
Yang pertama, Titi sering ditelpon orang yang mengaku wartawan, yang mengajukan pertanyaan tertentu. Meski dia menghindar dan tak mau menjawab pertanyaan itu –biasanya terkait kasus tertentu– tetapi pernyataan Titi yang bersifat umum dipelintir ke sana ke mari, seakan-akan dia setuju atau tidak setuju dengan penanganan kasus itu. Masalah jadi melebar karena pernyataan di media online abal-abal itu kemudian disebar di kanal-kanal media sosial.
Yang kedua, Titi sering tidak bisa menolak permintaan orang untuk diskusi, seminar, dan rapat-rapat antarlembaga. Padahal dia sudah punya agenda Perludem. Dia pikir karena setiap hari bisa ketemu anak Perludem di kantor, maka rapat-rapat internal sering dikorbankan: jadwal diubah atau absen. Saat mana anak-anak Perludem sudah tidak tahan untuk mengingatkan bosnya, maka mereka mengundang saya untuk ngopi-ngopi sambil ngobrolin Perludem.
Inilah salah satu kesimpulan hasil ngopi itu, “Tolong dong Pak, diingatkan Mbak Titi. Sudah berkali-kali rapat ditunda, juga beberapa kali gak hadir.” Selanjutnya, saya dan Titi janjian ngopi berdua saja. Tentu tidak semua janjian ngopi bisa kita tepati. Ada saja acara yang bisa membatalkannya, sampai-sampai dia mengajak bertemu hari Sabtu atau Minggu. Jawaban saya, “Tidak, itu waktumu untuk Fariz dan ayah Fariz. Saya juga mau pacaran sama istri saya. Pilih hari lain.”
Begitu ketemu, kami langsung to jleb poin. Kami berbantah, bersilat lidah, baku kata-kata, padhu. Namun sebelum kopi habis, kami sudah haha hihi haha hihi lagi. Kami bahas kegiatan dan program Perludem, yang diselipin gosip politik dan gosip aktivis, juga soal keluarga kita masing-masing. “Salam buat ayah Fariz,” kata saya. “Salam buat Bu Lechah,” jawabnya sambil ngasih oleh-oleh buat istri saya. Kami pun pulang ke rumah masing-masing dengan riang.
Jakarta, Augustus 2020
Didik Supriyanto