Editor: Philips J Vermonte
Bahasa: Indonesia
Penerbit: The Interseksi Foundation
Cetakan: Pertama, 2022
Tebal: xiv + 224 halaman
Harga:
Ada benang merah dari beragam testimoni tentang Hikmat Budiman yang berpulang 18 Juli 2021 karena Covid-19, baik dari senior, teman seangkatannya semasa kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM), juga junior baik di dalam maupun di luar UGM. Benang merah itu adalah pengakuan bahwa Hikmat adalah orang yang cerdas, bacaannya luas, spartan dalam membaca dan menulis, dan dingin terhadap kekuasaan.
Sejak muda hingga di ujung usianya, Hikmat Budiman tidak pernah berubah: berlogika lurus dan ketat. Saya perhatikan dengan bekal itulah ia menjadi iconoclast, pemenggal berhala. Ada tiga berhala yang ia penggal: berhala uang, berhala kuasa, dan berhala intelektual. Dua berhala yang pertama adalah yang sering ia penggal, karena sejak dulu Hikmat Budiman selalu skeptis pada kekuasaan atau kepada orang yang punya kuasa.
Menjadi iconoclast itu sangatlah Hikmat Budiman. Dia bisa dengan percaya diri mempersetankan kuasa dan kekuasaan, apapun bentuknya. Hikmat Budiman mengundurkan diri dari jabatan bagus di The Japan Foundation di awal tahun 2000-an, lalu memilih bersusah payah membangun lembaga kecil bernama Forum Interseksi bersama anak-anak muda peneliti, tanpa sedikit pun terlihat bahwa dia sedang membutuhkan uang. Bahkan dalam organisasi semacam Forum Interseksi itu, dalam hal uang dan keuangan, Hikmat amat sangat correct dan disiplin.
Bagi Hikmat, Forum Interseksi adalah medium tempatnya menumpahkan gagasan dan juga membina peneliti-peneliti muda secara spartan dan tidak pandang bulu. Dia editor “sadis”, komentarnya bisa pedas buat peneliti-peneliti muda, termasuk saya, yang waktu itu baru mulai belajar menulis secara serius.
Dari dialah para peneliti muda belajar meluruskan logika yang bengkok-bengkok dalam menulis. Hikmat Budiman juga mentor yang hebat. Ia mencontohkan bahwa bukan kepintaran yang paling penting, tapi daya kritis dan daya pikir yang harus dibenturkan dengan pemikiran yang berbeda agar menjadi tajam dan terasah. Hikmat Budiman nyaris tidak pernah silau terhadap intelektual-intelektual terkenal, karena ia dengan mudah bisa tunjukkan di mana kelemahan pikiran mereka (juga kekuatan mereka tentu saja).
Walaupun ia bisa menjadi pemenggal semua berhala intelektual, ada satu berhala yang tidak ia penggal yaitu Steve Jobs dan Mac-nya. Semua temannya tahu, betapa lengket Hikmat dengan karya-karya dan produk buah pikir Steve Jobs itu. Kalimat Steve Jobs yang sering dia ulang-ulang pada kami semua adalah “stay hungry, stay foolish”. Mungkin karena itu juga dia setengah berkelakar menasihati sebagian besar kami agar jangan sampai menjadi orang kaya. Kalau kita berhenti lapar, akibatnya adalah berhenti berpikir.
Hikmat jelas tidak menyukai seminar-seminar dan diskusi di hotel-hotel mewah, tapi lebih memilih diskusi di ruang-ruang kecil; lebih baik membangun medan-medan narasi kecil, katanya. Melalui berbagai diskusi-diskusi kecil, kadang di tempat terpencil, dari pikirannya telah lahir buku-buku hebat yang dipuji banyak orang karena kedalamannya. Ia tidak pernah memandang ide datang dari arah mana, karena itulah orang yang terlibat berdiskusi dengannya merasa dihargai. He is genuinely kind. Bukan pura-pura menghargai.
Semua paragraf di atas terefleksikan dalam berbagai tulisan dalam buku kenangan ini. Tulisan-tulisan hangat yang ditulis oleh sahabat-sahabat yang sungguh-sungguh merasa kehilangan kesempatan lebih panjang berinteraksi dengan Hikmat yang penuh determinasi dalam membaca, berpikir, dan menulis.
Bahkan di hari-hari terakhirnya, Hikmat Budiman tetap membuat sebuah tulisan yang tampaknya ia persiapkan untuk blog pribadinya (lihat Bagian Ketiga buku ini). Tulisan reflektif itu, yang ditemukan dalam folder komputernya dan atas izin keluarga, bisa kami muat dalam buku ini, berisi refleksi Hikmat atas situasi ketika kita semua didera situasi murung pandemi Covid-19. Tulisan reflektif itu tidak hanya berkenaan dengan situasi pribadi dan keluarganya yang tertular Covid-19, namun juga pandangan kritisnya terhadap bagaimana pihak-pihak yang memiliki otoritas penanganan pandemi Covid-19 ketika itu tampak tidak solid menjalankan tugas.
Kami merekam bahwa di hari-hari terakhirnya, sebagai mentor di Forum Interseksi, Hikmat tetap spartan. Ia mengingatkan kami untuk tepat waktu menjalankan rencana menyelenggarakan diskusi publik mengenai situasi gerakan masyarakat sipil kontemporer di Indonesia. Ia rajin mengejar dua rekan pegiat Forum Interseksi, Nurkhoiron dan Sapei Rusin, dengan gaya khas, separuh mem-bully separuh bercanda, mengolok-olok kedua rekan yang tidak kunjung selesai menulis makalah.
Kepada saya pun ia mengingatkan melalui pesan whatsapp: “jangan lupa Selasa depan acara diskusi kita harus terlaksana” dan itu terjadi dua atau tiga hari sebelum kepergiannya. Diskusi itu akhirnya terselenggara, juga menghadirkan Dr. Amalinda Savirani, dosen ilmu politik di UGM. Ketiga makalah yang mereka tulis kami muat utuh dalam buku kenangan ini (lihat Bagian Kedua buku ini), sebagai pengingat bahwa intelektualisme Hikmat Budiman yang ia perjuangkan dalam medan-medan narasi kecil akan terus hidup dan berlanjut, diteladani, dan dijadikan inspirasi.
Demikianlah, setelah tertunda sekitar satu tahun karena sejumlah alasan, antologi ini bisa tersaji. Pada 21 Agustus 2022, Hikmat Budiman seharusnya genap 54 tahun. Dengan buku ini, kita merayakan perjalanan hidupnya yang telah menginspirasi banyak orang yang ia sendiri mungkin sama sekali tidak menyadarinya.
Mewakili para inisiator buku kenangan ini, saya mengucapkan terima kasih kepada para penulis; istri almarhum, Mbak Tieke, yang mengizinkan beberapa materi dipublikasikan; serta Landry H. Subianto, Didik Supriyanto, Muhammad Nurkhoiron, dan Diding Sakri yang turut membiayai produksi buku ini.
Philips J. Vermonte
Dekan Fakultas Ilmu-ilmu Sosial Universitas Islam
Internasional Indonesia (UIII),
Senior Fellow CSIS, pegiat Forum Interseksi
Lampiran
File PDF